Koneksi Antar Materi Modul 3.1

Rangkuman Proses Perjalanan Pembelajaran pada Program Pendidikan Guru Penggerak hingga Moduln 3.1 "Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin"


Assalammu'alaikum Wr.Wb

Perkenalkan saya Chintia Pratiwi, S.Pd, dari SMK Negeri 1 Tambang, Kab. Kampar, Prov. Riau. Saya merupakan calon guru penggerak angkatan 10 tahun 2024. Saya dibimbing oleh Fasilitator yaitu Ibu Yenita Irawati, M.Pd dan Pengajar Praktik Bapak Rino Hilmi, S.Pd. Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang proses perjalanan pembelajaran saya dari modul 1.1 hingga sekarang sudah sampai pada modul 3.1, "Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin".

Tulisan ini merupakan tugas pada modul 3.1 Koneksi Antar Materi yaitu "Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin". Berikut rangkuman dari materi pembalajaran modul 3.1 yang terangkum dari panduan pertanyaan yang ada di dalam LMS. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi dan pembelajaran bagi pembaca.

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Ki Hajar Dewantara memperkenalkan sistem among yaitu ing ngarsa sung tuladha (didepan memberikan contoh), ing madya mangun karsa (disamping memberi semangat), dan tut wuri handayani (dibelakang memberi dorongan). Sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan, hendaknya keputusan tersebut dapat memberikan contoh dan teladan bagi murid-muridnya. Setiap keputusan yang diambil dalam pembelajaran sebaiknya mampu membuat murid semakin bersemangat dalam pembelajaran, dan sebagai pemimpin pembelajaran bisa mendorong muridnya untuk melakukan pembelajaran yang inovatif sesuai keputusan yang telah diambil.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini tentu memiliki arti yang mendalam, terutama dalam peran kita sebagai pemimpin pembelajaran ketika membuat suatu keputusan. Dalam kasus dilema etika tentu ketika membuat keputusan harus berpihak kepada murid, jadi nantinya di masa yang akan datang murid yang bersangkutan tidak dirugikan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap perbuatan dan tingkah laku yang dilakukan oleh seseorang terkadang merupakan cerminan dari nilai-nilai yang sudah tertanam dalam dirinya sedari kecil. Hal tersebut juga kan berpengaruh ketika orang tersebut dihadapkan untuk membuat suatu keputusan. Jika pada diri kita tertanam nilai-nilai kebajikan, seperti kejujuran, saling menghargai, maka saat mengambil keputusan kita akan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Nilai-nilai kebajikan yang telah tertanam pada diri seseorang, akan membuat orang tersebut selalu berfikiran positif, tenang dalam bersikap dan menghadapi masalah atau pun kasus-kasus dilema etika. Dalam mengambil keputusan seseorang yang berpikir dengan landasan nilai-nilai kebajikan pasti akan memikirkan resiko seminimal mungkin dalam mengambil suatu keputusan. Sangat penting untuk kita sebagai guru dan pendidik menanamkan nilai-nilai kebajikan tersebut kepada murid-murid kita, karena meraka adalah calon pemimpin-peminpin masa depan.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Didalam pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan ada 9 langkah pengujian keputusan. Untuk dapat menguji keputusan yang kita ambil sudah baik atau belum tentu kita harus mengetahui terlebih dahulu apa penyebab dari kasus dilema etika yang terjadi. Untuk menggali informasi tersebut, kita dapat melakukan praktek coaching, didalam kompetensi coaching ada kehadiran penuh, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat coaching kita akan dapat menemukan alasan kenapa kasus dilema etika tersebut terjadi. Setelah itu barulah kita bisa menguji keputusan yang kita ambil. Melakukan coaching adalah salah satu cara agar kita sebagai pemimpin pembelajaran dapat melihat kemungkinan keputusan yang akan kita ambil.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Aspek sosial emosional tentu berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran, tentu dalam membuat keputusan harus berpihak kepada murid, guru yang memiliki kompetensi kesadaran sosial akan mampu melihat masalah tersebut dari sudut pandang muridnya, dan setiap berhadapan dengan kasus dilema etika yang mungkin akan membuat kita sebagai guru merasa emosi, kita perlu memanajemen diri untuk bisa lebih tenang dan dapat mengendalikan emosi, agar keputusan yang diambil dapat dipertanggung jawabkan dan tidak merugikan murid. Jadi seorang pemimpin pembelajaran harus memiliki 5 kompetensi sosial emosional di dalam dirinya agar mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pada studi kasus masalah moral atau etika, harus didasari kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik, nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai kebajikan universal, contohnya kejujuran, saling menghormati, keselamatan, keadilan, tanggung jawab dan lainnya. Disekolah, sebagai pendidik tentu kita akan menanamkan nilai-nilai kebajikan kepada murid-murid kita dan juga tentunya dapat mencontohkan nilai-nilai kebajikan tersebut dengan prilaku seorang pendidik. Murid biasanya cenderung meniru dan melihat apa yang dilakukan oleh gurunya ketika berbicara, dan berlaku. Ketika murid sudah punya keyakinan dan tertanam di dirinya nilai-nilai kebajikan tentu masalah moral dan etika tidak lagi membuat masalah di lingkungan sekolah.  Kasus dilema etika dapat diselesaikan dengan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian keputusan.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Jika pengambilan keputusan selalu berdasarkan nilai-nilai kebajikan akan menghasilkan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab, dimana keputusan tersebut akan diterima oleh semua pihak, dan tidak ada yang akan merasa dirugikan. Tentunya keputusan yang sudah baik tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan positif, kondusif, aman dan nyaman, sehingga murid dalam pembelajaran akan dapat kreatif dan inovatif. Bagaimana kita mengetahui keputusan yang kita ambil sudah bertanggung jawab, tentu dilakukan pengujian keputusan terlebih dahulu.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan dilingkungan dalam pengambilan keputusan adalah kurang menerima pendapat atau masukan, sehingga keputusan yang diambil hanya sesama pihak yang berwenang saja tanpa melibatkan masyarakat sekitar, mungkin dikarenakan jika banyak mendengarkan pendapat tentu masalah akan lama untuk diselesaikan. Jadi setelah keputusan ditetapkan mau tidak mau harus dapat menerima. Paradigma pemahaman seperti inilah yang seharusnya dapat berubah dikarenakan negara kita adala negara demokrasi, sehingga kita dapat mendengarkan pendapat-pendapat dalam pengambilan keputusan agar tidak ada yang merasa dirugikan.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran haruslah berpihak kepada murid, dalam memutuskan pembelajaran yang tepat untuk murid-murid kita tentu dengan melihat kebutuhan belajar murid yakni minat, kesiapan beajar dan profil murid, agar kita mengetahui potensi dari masing-masing murid. Untuk memenuhi kebutuhan murid pembelajaran yang baik adalah pembelajaran berdiferensiasi.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Saat mengambil keputusan tentu seorang pemimpin pembelajaran akan memastikan keputusan adalah berpihak pada murid. Dimana, kita sebagai pemimpin pembelajaran akan melihat pengaruh jangka panjang dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada masa depan murid tersebut. Tentu keputusan yang diambil nantinya tidak akan merugikan murid tersebut dimasa depan. Sangat penting untuk bijak dan melakukan pengambilan keputusan dengan menguji keputusan tersebut terlebih dahulu.

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Dalam mengambil keputusan seorang guru harus berpedoman pada filosofis Ki Hajar Dewantara, berdasarkan nilai guru penggerak yang berpihak pada murid serta berbasis nilai-nilai kebajikan universal. Keputusan yang diambil dalam pembelajaran yang berpihak pada murid tentu sesuai dengan kebutuhan belajar murid yaitu dengan pembelajaran berdiferensiasi. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, perlu memiliki kompetensi sosial emosional agar lebih tenang dalam menghadapi masalah dan dapat diselesaikan dengan kepala dingin. Semua masalah dan kasus yang terjadi tentu memiliki sebab dan alasan , untuk mengetahui dan menggali lebih lanjut perlu dilakukan praktik coaching.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman saya tentang konsep-konsep pada modul 3.1 ini yaitu saya memahami beberapa konsep seperti :

  1. Dilema etika (benar vs benar) adalah sebuah situasi dimana keduanya benar tapi bertentangan dalam mengambil keputusan
  2. Bujukan moral (benar vs salah) adalah situasi ketika seseorang dihadapkan pada benar salah ketika mengambil keputusan.
  3. Paradigma dalam pengambilan keputusan ada 4 yaitu : 
    • Individu vs masyarakat
    • Rasa keadilan vs rasa kasihan
    • Kebenaran vs kesetiaan
    • Jangka pendek vs jangka panjang.
      4. Ada 3 prinsip cara berpikir, yaitu: 
    • Berbasis hasil akhir (End-based Thinking)
    • Berbasis peraturan  (Rule-based Thinking)
    • Berbasis rasa peduli (Care-based Thingking
       5. Ada 9 langkah yang bisa dijadikan panduan dalam mengambil keputusan, yaitu:
    • Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan lalu menyaring mana yang berhubungan dengan dilema etika dan bujukan moral
    • Tentukan pihak yang terlibat, Kumpulkan fakta-fakta yang relevan
    • Pengujian benar atau salah yang terdiri dari Uji Legal, Uji Regulasi, Uji Intuisi, Uji Publikasi, dan Uji Panutan / Idola
    • Menguji 4 paradigma benar vs benar
    • Melakukan prinsip resolusi menggunakan 3 prinsip cara berpikir 
    • Investigasi opsi trilema
    • Membuat keputusan
    • Lihat keputusan dan merefleksikannya.
    • Lihat keputusan dan merefleksikannya.
Hal yang menurut saya diluar dugaan saat mempelajari modul ini adalah ternyata modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin ini saling terkait dengan modul-modul yang sudah dipelajari sebelumnya.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Saya pernah mengambil keputusan dalam suatu kasus yang terjadi saat proses pembelajaran. Tetapi saat itu saya langsung memutuskan keputusan yang saya ambil, tanpa memvalidasi dan menanyakan sebab nya serta tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi pada masa mendatang. Saya hanya melihat bahwa perbuatan murid tersebut salah dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Setelah saya mempelajari modul ini ternyata proses pengambilan keputusan yang saya lakukan belum sesuai, dimana seharusnya dalam pengambilan keputusan, saya harus melihat berdasarkan 4 paradigma yang ada, 3 prinsip berpikir dan menguji keputusan tersebut dengan 9 langkah pengujian keputusan.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Banyak dampak positif yang saya rasakan setelah saya mempelajari modul ini, sekarang saat dikelas ada kasus dilema etika yang terjadi saya akan melihat paradigma dan prinsip terlebih dahulu, kemudian saya mencoba menguji keptusan tersebut, tetapi mungkin yang baru saya lakukan disekolahnadalah terhadap kasus-kasus dilema etika yang ringan, dan saya berharap semakin saya menerapkan modul ini dalam pengambilan keputusan saya akan bisa menghadapi kasus-kasus dilema etika yang lebih berat.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting bagi saya mempelajari modul ini sebagai seorang individu dalam masyarakat dan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, karena sebagai pemimpin pembelajaran cukup sering ada kasus-kasus dilema etika yang terjadi terhadap murid-murid saya, dan dengan mempelajari modul ini tentu akan lebih  mudah bagi saya untuk mengambil keputusan yang bijak dan bertanggung jawab. Saya bersyukur diberi kesempatan untuk bisa mengikuti program pendidikan guru penggerak ini dan bisa mempelajari modul pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin ini.

Komentar